Polri Harus Waspada Serangan Teroris Pasca Rusuh di Mako Brimob

Polri Harus Waspada Serangan Teroris Pasca Rusuh di Mako Brimob

NewsNKRI – Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan jaringan teroris tengah menyusun strategi untuk melakukan serangan pasca-kerusuhan di Mako Brimob. Polri diimbau untuk mewaspadai adanya serangan di luar Mako Brimob.

“Jaringan di luar sedang dipanggil untuk terlibat aktif di dalam penyerangan di Mako Brimob, tapi saat ini mereka belum muncul,” kata Al Chaidar.

Menurut Chaidar, dengan adanya penyanderaan yang dilakukan teroris di dalam Rutan Mako Brimob menambah kekuatan jaringan teroris yang berada di luar. Polri diimbau untuk mewaspadai gerakan teroris di luar yang akan melakukan penyerangan.

“Mereka akan membantu menyerang polisi dari luar. Ya harus sudah diwaspadai dari sekarang,” imbuhnya.

Al Chaidar mengatakan, napi teroris yang berada di dalam Rutan Mako Brimob posisinya sangat kuat. Mereka sudah menguasai senjata api polisi, sehingga lebih sulit untuk diserbu.

“Senjata mereka tujuh pucuk laras panjang, yang laras pendek tujuh pucuk, peluru juga 300-an (butir) kaliber kecil,” imbuhnya.

Dengan persenjataan itu, napi teroris punya tingkat bargaining lebih tinggi. Sehingga proses negosiasi pun dinilai hanya akan membuang-buang waktu.

Untuk itu, Polri disarankan untuk melakukan upaya last resort meski punya risiko tinggi. Negosiasi dinilai tidak akan berhasil. Kalaupun polisi melakukan penyerbuan, napi teroris disebut sudah siap mati.

Pengamat terorisme Al-Chaidar memperkirakan proses negosiasi polisi untuk menangani penyanderaan di Rutan Mako Brimob tidak akan berhasil. Napi teroris sudah menguasai Rutan Mako Brimob dan siap mati.

“Saya kira (polisi) tidak akan berhasil (dalam proses negosiasi) karena mereka (teroris) memiliki senjata dan dengan itu mereka akan memperluas pengaruhnya, penguasaannya terhadap seluruh kompleks, apalagi mereka memiliki tawanan dan bisa menambah tawanan untuk menambah bargaining,” jelas Al-Chaidar.

Baca Juga :   Bhinneka Tunggal Ika Arti dari Busana Yang Dipakai Jokowi di MPR

Proses negosiasi sudah berlangsung lama. Kerusuhan sendiri terjadi sejak Selasa (8/5) sore. Sudah 24 jam lebih Polri belum berhasil mengambil alih situasi di dalam Mako Brimob.

Lambatnya proses negosiasi, diperkirakan Al-Chaidar, disebabkan banyaknya sandera yang dikuasai teroris. Dengan banyaknya sandera ini, Polri pun terhambat dalam mengambil upaya terakhir (last resort), sehingga harus mengedepankan upaya negosiasi.

“Saya menduga yang disandera bukan cuma satu orang, tapi lebih. Kalau satu mungkin cepat penyelesaiannya, (tetapi) kalau banyak harus dipertimbangkan polisi sebelum ambil tindakan the last resort makanya lama,” tuturnya.

 

 

Komentar Anda

Related posts

Leave a Reply